Kisah Siti Hajar adalah pelukan hangat bagi setiap jiwa yang sedang merasa ditinggalkan, sendirian di tengah “padang pasir” persoalan hidup yang terasa gersang dan tanpa jalan keluar.
Pernahkah Sahabat Muslim merasa sudah berjuang habis-habisan, berlari ke sana kemari mencari solusi, namun hasilnya tetap nihil hingga rasanya ingin menyerah saja? Jika ya, maka berhentilah sejenak, tarik napas dalam-dalam, dan mari kita belajar dari seorang wanita luar biasa yang saking dicintainya oleh Allah, langkah kakinya diabadikan dalam ritual ibadah hingga akhir zaman.
Belajar dari Bunda Hajar bukan hanya soal sejarah masa lalu, melainkan sebuah panduan self-healing terbaik untuk memahami bahwa di balik setiap kesulitan yang menguras air mata, ada mata air zamzam yang sedang Allah persiapkan untuk kita.
Menitipkan Hati di Tengah Padang Tandus
Bayangkan sejenak, Sahabat Muslim. Berada di sebuah lembah tanpa tanaman, tanpa sumber air, dan hanya ditemani bayi mungil yang sedang haus. Itulah yang dialami Siti Hajar saat Nabi Ibrahim AS harus meninggalkannya atas perintah Allah.
Saat itu, Siti Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?” Ketika Nabi Ibrahim menjawab, “Iya,” maka keluarlah kalimat yang menjadi kunci ketenangan abadi: “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Pelajaran pertama ini begitu dalam. Allah SWT berfirman tentang doa Nabi Ibrahim di tempat tersebut dalam Surah Ibrahim ayat 37:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati…”
Hikmah untuk kita: Ketenangan tidak datang dari situasi yang serba ada, tapi dari keyakinan bahwa selama kita bersama Allah, kita tidak pernah benar-benar sendirian.
Ritual Sa’i: Mengapa Kita Harus Tetap Berlari?
Banyak dari kita bertanya, kalau memang Allah sudah menjamin rezeki, mengapa Siti Hajar harus berlari tujuh kali antara Shafa dan Marwah? Bukankah Allah bisa saja langsung memancarkan air di bawah kaki beliau saat itu juga?
Di sinilah letak indahnya Kisah Siti Hajar. Beliau mengajarkan kita tentang “Ikhtiar yang Totalitas”.
1. Jangan Hanya Berdiam Diri
Siti Hajar tidak hanya duduk menangis meratapi nasib. Beliau berlari. Shafa ke Marwah, Marwah ke Shafa. Beliau naik ke atas bukit untuk melihat apakah ada kafilah yang lewat. Beliau mengusahakan yang terbaik meski logika manusia mungkin berkata itu sia-sia.
2. Harapan yang Tidak Pernah Padam
Setiap kali sampai di puncak bukit dan tidak melihat apa-apa, beliau tidak berhenti. Beliau terus berlari sampai tujuh kali. Ini adalah simbol bahwa dalam hidup, kegagalan di langkah pertama bukan berarti Allah tidak mendengar. Mungkin Allah ingin melihat seberapa besar kepercayaan kita pada-Nya.
3. Allah Menghargai Proses, Bukan Hasil
Dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (Hadits No. 3364), diceritakan betapa gigihnya perjuangan Siti Hajar. Allah sangat menghargai langkah-langkah kaki beliau hingga menjadikannya rukun dalam ibadah Haji dan Umrah (Sa’i).
Keajaiban Zamzam: Saat Pertolongan Datang dari Arah Tak Terduga
Sahabat Muslim, tahukah Sahabat bahwa air zamzam tidak muncul dari bukit Shafa atau Marwah tempat Siti Hajar berlari? Air itu justru muncul dari bawah kaki bayi Ismail yang sedang menangis, melalui perantara sayap Malaikat Jibril.
Ini adalah “plot twist” terindah dari Allah untuk kita semua:
- Kita berlari di “Shafa”, tapi Allah beri rezeki di “bawah kaki Ismail”.
- Kita bekerja keras di bidang A, tapi Allah datangkan keberkahan dari bidang B.
- Tugas kita hanyalah “berlari” (berusaha), sementara urusan dari mana air itu muncul adalah hak prerogatif Allah.
Zamzam adalah simbol keberkahan yang abadi. Rasulullah SAW bersabda: “Air Zamzam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Keajaiban ini ada karena sebuah ketulusan dan kepasrahan seorang hamba.
Cara Mengambil Ibrah Siti Hajar untuk Kehidupan Modern
Mungkin saat ini Sahabat Muslim sedang berjuang mencari nafkah, menyembuhkan sakit yang tak kunjung sembuh, atau mendidik anak yang sulit diatur. Mari terapkan pola pikir Bunda Hajar:
- Validasi Perasaanmu: Wajar jika merasa takut atau sedih, Siti Hajar pun merasakan haus dan khawatir. Namun, jangan biarkan perasaan itu mengalahkan imanmu.
- Lakukan Saja Bagianmu: Jika tugasmu adalah belajar, belajarlah. Jika tugasmu adalah berobat, berobatlah. Lakukan “Sa’i” versi Sahabat hari ini.
- Lepaskan Hasilnya: Setelah berlari tujuh kali, duduklah dengan tenang dan tunggu instruksi-Nya. Pertolongan Allah seringkali datang saat kita sudah benar-benar merasa tidak punya daya apa-apa lagi selain Dia.
Kesimpulan
Kisah Siti Hajar mengajarkan kita bahwa tidak ada doa yang sia-sia dan tidak ada usaha yang tidak dihargai. Sa’i dan Zamzam adalah bukti nyata bahwa Allah mencintai mereka yang berani melangkah di tengah ketidakpastian demi menaati perintah-Nya. Ketika Sahabat merasa lelah dengan beban hidup, ingatlah Bunda Hajar. Ingatlah bahwa padang pasir yang tandus pun bisa menjadi kota yang paling diberkahi karena satu hal: Tauhid yang lurus.
Semoga renungan ini bisa memeluk hatimu yang sedang gundah, ya Sahabat Muslim. Percayalah, “Zamzam”-mu akan segera memancar di waktu yang paling tepat.
Ingin mendalami lebih banyak kisah inspiratif para nabi dan tokoh Islam yang menenangkan jiwa?
Jangan biarkan semangat belajarmu berhenti di sini. Temukan berbagai panduan spiritual, tips kehidupan muslim modern, hingga informasi lengkap seputar perjalanan ibadah yang akan semakin mendekatkanmu pada-Nya. Yuk, langsung saja jelajahi artikel-artikel menarik dan penuh ilmu lainnya hanya di website umroh.co. Mari kita tumbuh bersama dalam iman dan pengetahuan!
Baca artikel inspiratif lainnya di umroh.co dan temukan kedamaian dalam setiap langkah ibadahmu.





