Sejarah Hajar Aswad bukan sekadar tentang sebuah batu hitam di sudut Ka’bah, melainkan tentang perjalanan sepotong kemuliaan dari surga yang menjadi saksi bisu betapa indahnya kedamaian saat dipimpin oleh ketulusan seorang Rasulullah ﷺ.
Bagi kita yang merindukan ketenangan jiwa, memahami asal-usul dan peristiwa di balik batu ini adalah bentuk self-healing spiritual yang luar biasa. Mari kita duduk sejenak, lepaskan segala penat, dan selami kisah yang akan membuat kita semakin mencintai Sang Khaliq dan utusan-Nya.
Asal-Usul Hajar Aswad: Kepingan Surga yang Turun ke Bumi
Sahabat Muslim, tahukah kamu bahwa batu yang kita lihat sekarang berwarna hitam pekat itu sebenarnya tidak diciptakan dalam warna tersebut? Hajar Aswad memiliki asal-usul yang sangat suci. Ia adalah bagian dari Yaqut (permata) surga yang dikirimkan Allah SWT ke dunia.
Batu ini dibawa oleh Malaikat Jibril AS atas perintah Allah untuk diberikan kepada Nabi Ibrahim AS saat beliau sedang membangun kembali pondasi Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail AS. Kehadirannya adalah sebagai penanda mulainya thawaf dan sebagai penyempurna bangunan Baitullah yang paling suci.
Putih yang Menjadi Hitam: Sebuah Refleksi Diri
Ada fakta yang sangat menyentuh hati dalam sebuah hadist. Awalnya, batu ini tidak berwarna hitam. Rasulullah ﷺ bersabda: “Hajar aswad turun dari surga padahal warna aslinya lebih putih daripada susu, lalu dosa-dosa anak cucu Adam-lah yang membuatnya menjadi hitam.” (HR. Tirmidzi).
Bayangkan, Sahabat Muslim, betapa murninya kepingan surga tersebut. Perubahan warnanya menjadi hitam adalah pengingat bagi kita semua tentang dampak dosa-dosa manusia. Namun di sisi lain, ini adalah simbol kasih sayang Allah; meskipun kita penuh noda, Allah tetap memberikan akses bagi kita untuk “menyentuh” kepingan surga itu melalui ibadah haji dan umroh. Ini adalah cara Allah mengajak kita untuk selalu bertaubat dan membersihkan hati.
Tragedi Ka’bah dan Perselisihan yang Nyaris Menumpahkan Darah
Melompat ke masa ribuan tahun setelah Nabi Ibrahim, saat itu Rasulullah ﷺ belum diangkat menjadi Nabi (beliau berusia sekitar 35 tahun). Mekah dilanda banjir besar yang menyebabkan dinding Ka’bah retak dan nyaris roboh. Kaum Quraisy sepakat untuk merenovasi bangunan suci tersebut.
Pembangunan berjalan lancar hingga tiba saatnya pada bagian paling krusial: Peletakan kembali Hajar Aswad ke tempat asalnya.
Di sinilah ego manusia mulai berbicara. Sahabat Muslim bisa bayangkan, setiap kabilah di Mekah merasa paling berhak dan paling mulia untuk memindahkan batu tersebut. Suasana yang tadinya penuh gotong royong berubah menjadi ketegangan hebat selama empat hingga lima malam. Pedang mulai terhunus, dan “janji darah” mulai diucapkan. Mereka hampir saja saling membantai hanya karena sebuah kehormatan.
Pelajaran bagi kita: Seringkali, hal-hal baik bisa rusak hanya karena ego dan keinginan untuk dianggap yang “paling” di antara yang lain. Di saat genting itulah, Allah menghadirkan jalan keluar melalui sosok yang paling terpercaya.
Strategi “Kain Sorban”: Diplomasi Damai Sang Al-Amin
Dalam suasana mencekam itu, Abu Umayyah bin al-Mughirah, orang tertua di antara mereka, memberikan usul: “Siapa pun orang yang pertama kali masuk melalui pintu masjid ini, dialah yang akan menjadi hakim di antara kita.”
Allah mentakdirkan Muhammad bin Abdullah—yang kelak menjadi Nabi kita—sebagai orang pertama yang melangkah masuk. Begitu melihat beliau, semua kabilah berteriak lega, “Al-Amin! Kami ridha dengan keputusannya!”
Sahabat Muslim, mari kita perhatikan betapa cerdas dan rendah hatinya solusi yang diberikan beliau:
- Beliau melepaskan sorbannya dan menghamparkannya di atas tanah.
- Beliau meletakkan Hajar Aswad tepat di tengah-tengah sorban tersebut.
- Beliau tidak mengangkatnya sendirian. Beliau meminta setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung kain tersebut secara bersama-sama.
Dengan cara ini, semua kabilah merasa terhormat karena telah ikut serta mengangkat batu suci tersebut. Setelah sampai di dekat tempatnya, barulah Rasulullah ﷺ mengambil batu itu dengan tangannya yang mulia dan meletakkannya ke posisi semula. Konflik yang tadinya berdarah-darah berakhir dengan senyuman dan persaudaraan.
Mengapa Hajar Aswad Begitu Sakral dalam Islam? (Expert Guide)
Sebagai umat muslim, kita perlu memahami kedudukan Hajar Aswad bukan sebagai benda yang disembah, melainkan sebagai simbol ketaatan. Dalam Sejarah Hajar Aswad, ada beberapa poin penting yang menjadikannya begitu istimewa:
- Saksi di Hari Kiamat: Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah akan membangkitkan Hajar Aswad pada hari kiamat dengan dua mata dan lisan untuk memberikan kesaksian bagi siapa saja yang mencium atau menyentuhnya dengan benar (HR. Tirmidzi).
- Tempat Mustajab untuk Berdoa: Sudut ini (Rukun Hajar Aswad) adalah salah satu tempat di mana doa-doa lebih mudah diijabah oleh Allah SWT.
- Menghapus Dosa: Menyentuh Hajar Aswad dan Rukun Yamani diyakini dapat menghapuskan dosa-dosa kecil, layaknya daun yang gugur dari pohonnya.
Namun, yang paling mendalam adalah perkataan Umar bin Khattab RA saat mencium batu ini: “Sesungguhnya aku tahu kamu hanyalah batu, tidak bisa memberi manfaat atau mudharat. Jika aku tidak melihat Rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari). Ini adalah pelajaran tentang ittiba’ (mengikuti Rasul) tanpa syarat.
Pelajaran Self-Healing: Belajar Menemukan “Jalan Tengah”
Dari kisah penempatan kembali Hajar Aswad, kita bisa mengambil hikmah untuk kehidupan sehari-hari kita. Seringkali masalah hidup kita terasa buntu bukan karena tidak ada solusi, tapi karena kita terlalu keras mempertahankan ego masing-masing.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kedamaian bisa dicapai ketika kita mau berbagi panggung, berbagi peran, dan saling menghargai. Jika Sahabat Muslim saat ini sedang menghadapi konflik keluarga atau pekerjaan, cobalah untuk “menghamparkan sorban” seperti yang dilakukan Nabi. Carilah cara agar semua pihak merasa dihargai. Kedamaian itulah yang sebenarnya akan menyembuhkan luka di hati kita.
Dalil Relevan tentang Keagungan Hajar Aswad
Agar iman kita semakin kokoh, mari kita simpan referensi ini dalam hati:
- Tentang Kesaksian: “Demi Allah, Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat kelak dalam keadaan memiliki dua mata yang melihat dan lisan yang berbicara. Ia akan menjadi saksi bagi setiap orang yang menciumnya dengan benar.” (HR. Ahmad).
- Tentang Thawaf: Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 29: “…dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” Hajar Aswad adalah titik awal dan akhir dari ibadah mulia ini.
Kesimpulan: Batu Surga yang Menyatukan Umat
Sejarah Hajar Aswad bukan sekadar cerita masa lalu tentang sebuah benda mati. Ia adalah simbol persatuan, kerendahan hati, dan mukjizat yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini. Dari warna putih yang menjadi hitam, kita belajar tentang pentingnya taubat. Dari kain sorban Nabi, kita belajar tentang indahnya diplomasi dan perdamaian.
Semoga suatu saat nanti, Allah izinkan Sahabat Muslim untuk bisa berdiri di depan Ka’bah, menatap langsung keindahan Hajar Aswad, dan merasakan getaran iman yang tak terlupakan di sana.
Penasaran dengan rahasia tempat-tempat suci lainnya di tanah haram? Atau ingin tahu lebih banyak tentang tips persiapan ibadah yang menenangkan hati? Jangan berhenti di sini ya, Sahabat Muslim. Masih banyak samudera ilmu yang bisa kita selami bersama.
Yuk, temukan inspirasi keislaman lainnya yang lebih mendalam, tips kehidupan muslim yang praktis, hingga panduan ibadah yang menyentuh jiwa hanya di umroh.co. Mari kita perkaya wawasan kita agar perjalanan hidup ini semakin bermakna dan terarah menuju ridha-Nya.
Baca artikel menarik lainnya dan temukan ketenangan ibadahmu di umroh.co sekarang!





