Kisah Khadijah binti Khuwaylid bukan sekadar dongeng tentang seorang saudagar kaya dari jazirah Arab, melainkan sebuah panduan hidup (Expert Guide) tentang bagaimana menyelaraskan antara kemakmuran dunia dengan kemuliaan akhirat. Di tengah dunia yang sering kali memuja angka dan pencapaian, meneladani sosok Ibunda Khadijah adalah bentuk self-healing terbaik untuk menyadari bahwa harta hanyalah alat, sementara cinta kepada Allah adalah tujuan yang hakiki.
Bagi Sahabat Muslim yang sedang merintis usaha atau berjuang di dunia profesional, mari kita duduk sejenak. Tarik napas dalam-dalam, lepaskan kepenatan sejenak, dan mari kita pelajari bagaimana sang “Ratu Makkah” ini bisa memiliki hati yang begitu lapang meski seluruh hartanya habis demi perjuangan Islam.
Sang CEO yang Berhati Mulia: Lebih dari Sekadar Pengusaha
Jauh sebelum istilah Woman Empowerment atau Female Founder dikenal dunia, Khadijah binti Khuwaylid sudah mempraktikkannya dengan sangat elegan. Beliau adalah seorang pebisnis ulung yang mengelola kafilah dagang lintas negara. Namun, apa yang membuat bisnisnya begitu berbeda?
1. Integritas dan Kejujuran Tanpa Syarat
Sahabat Muslim, rahasia pertama kesuksesan Khadijah bukan pada modalnya yang besar, melainkan pada kemampuannya memilih SDM yang jujur. Inilah yang mempertemukan beliau dengan Muhammad SAW muda. Beliau tidak hanya mencari keuntungan, tapi mencari keberkahan.
2. Profesionalisme yang Humanis
Meskipun beliau seorang pemimpin besar, Khadijah dikenal sebagai wanita yang sangat santun dan peduli pada kaum dhuafa. Beliau membuktikan bahwa menjadi “pakar” di bidangnya tidak harus kehilangan sisi kemanusiaan.
Menjadi Madrasah dan Tempat Berteduh bagi Rasulullah SAW
Mungkin bagian paling menyentuh dari Kisah Khadijah binti Khuwaylid adalah saat wahyu pertama turun di Gua Hira. Bayangkan Sahabat, saat Rasulullah SAW pulang dengan tubuh gemetar karena ketakutan, Khadijah tidak bertanya “Tadi kamu dari mana?” atau “Kenapa kamu seperti ini?”
Beliau justru menyelimuti Rasulullah dan mengucapkan kalimat yang sangat menenangkan:
“Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau senantiasa menyambung silaturahmi, menolong orang yang kesusahan, dan menghormati tamu.”
Kalimat ini adalah bentuk dukungan emosional tingkat tinggi. Ini mengajarkan kita bahwa kesuksesan sejati seorang wanita adalah ketika ia bisa menjadi pelipur lara bagi orang-orang tersayang di saat badai datang.
Pengorbanan yang Menggetarkan Langit
Banyak dari kita yang merasa takut kehilangan harta. Namun, Ibunda Khadijah mengajarkan kita filosofi kepemilikan yang luar biasa. Beliau memberikan seluruh kekayaannya tanpa sisa untuk dakwah Islam.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ad-Duha ayat 8:
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
Para mufassir menyebutkan bahwa salah satu cara Allah memberikan kecukupan kepada Rasulullah SAW adalah melalui harta Ibunda Khadijah.
Mengapa Beliau Sangat Dicintai Allah?
Saking besarnya peran dan ketulusannya, Malaikat Jibril pernah turun hanya untuk menyampaikan salam dari Allah SWT kepadanya. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda:
“Malaikat Jibril datang kepadaku lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk… Jika ia datang, sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhannya dan dariku, dan kabarkanlah berita gembira kepadanya tentang sebuah rumah di Surga dari permata…'” (HR. Bukhari no. 3820 dan Muslim no. 2432).
Hikmah untuk Muslimah Modern yang Ingin Sukses
Sahabat Muslim, apa yang bisa kita ambil untuk kehidupan kita hari ini?
- Rezeki adalah Amanah: Jangan takut berbisnis, tapi jadikan bisnismu sebagai jalan untuk membantu agama Allah.
- Mentalitas Berbagi: Harta tidak akan berkurang karena sedekah. Justru, harta yang kita berikan itulah yang akan menjadi “istana” kita di surga nanti.
- Keseimbangan Peran: Khadijah membuktikan bahwa wanita bisa menjadi pengusaha sukses sekaligus istri yang sangat lembut dan taat.
Mengatasi Rasa Takut Akan Masa Depan
Jika hari ini Sahabat merasa khawatir akan rezeki atau masa depan bisnis, ingatlah ketenangan Khadijah saat hartanya habis dalam boikot di Syi’ab Abi Thalib. Beliau tidak mengeluh. Beliau tetap tersenyum di samping Rasulullah hingga napas terakhirnya. Ini adalah self-healing yang nyata: bahwa kebahagiaan tidak terletak pada saldo rekening, tapi pada rida Allah yang kita jemput lewat perjuangan.
Kesimpulan
Kisah Khadijah binti Khuwaylid adalah bukti bahwa kesuksesan materi yang dibalut dengan iman akan menghasilkan keabadian. Beliau meninggalkan kekayaan dunia untuk menjemput kekayaan akhirat yang jauh lebih indah. Menjadi sukses itu boleh, bahkan dianjurkan, asalkan hati kita tetap terpaut pada Sang Pemilik Rezeki. Semoga kita semua bisa memiliki sedikit dari ketegaran dan kemurahan hati Ibunda Khadijah.
Ingin tahu lebih banyak tentang kisah-kisah inspiratif sahabat nabi, tips bisnis islami, hingga panduan perjalanan umrah yang penuh makna?
Jangan berhenti di sini, Sahabat Muslim. Mari terus perkaya jiwa dan pengetahuan kita dengan menyelami lebih banyak artikel bermanfaat lainnya seputar kehidupan muslim, pendidikan anak, hingga persiapan ibadah ke Tanah Suci. Yuk, langsung kunjungi website umroh.co dan temukan berbagai informasi yang akan membuat langkah hijrahmu semakin mantap dan tenang.
Sampai jumpa di artikel menarik lainnya di umroh.co!




