Penjelasan Ayat Tentang Larangan Sombong (QS. Al-Isra: 37) merupakan untaian nasihat Ilahi yang sangat menggetarkan jiwa, di mana Allah SWT mengingatkan manusia akan keterbatasan fisik dan hakikat penciptaannya agar tidak berjalan di muka bumi dengan penuh keangkuhan.
Dalam ayat yang sarat akan makna satir dan filosofis ini, Allah SWT menantang kesombongan manusia dengan logika yang sangat sederhana namun tak terbantahkan: bahwa sekuat apa pun kaki menghentak, bumi takkan terbelah, dan setinggi apa pun kepala mendongak, gunung-gunung takkan terlampaui. Memahami esensi ayat ini akan membantu Sahabat Muslim untuk menyadari bahwa setiap kelebihan yang dimiliki baik itu rupa, harta, maupun tahta adalah titipan sementara yang seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan justru menjadi hijab yang memisahkan antara hamba dengan rida Rabb-nya.
Sahabat Muslim, mari kita tadabburi bersama rahasia di balik larangan sombong dalam Surat Al-Isra ayat 37 ini agar hati kita senantiasa terjaga dalam bingkai tawadhu (rendah hati).
Mengenal QS. Al-Isra Ayat 37: Teguran bagi Jiwa yang Angkuh
Surat Al-Isra ayat 37 adalah bagian dari rangkaian perintah adab yang Allah gariskan bagi umat manusia. Allah SWT berfirman dengan kalimat yang sangat tegas:
“Walā tamsyi fil-arḍi maraḥā, innaka lan takhriqal-arḍa wa lan tablugāl-jibāla ṭūlā.”
Artinya: “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan dapat menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37).
Analogi Menembus Bumi dan Menyamai Gunung
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan larangan bagi manusia untuk bersikap sombong (marahā), yaitu berjalan dengan angkuh, membanggakan diri, dan merasa lebih baik dari orang lain. Allah menggunakan perumpamaan fisik untuk mengecilkan ego manusia. Seolah Allah berkata, “Wahai manusia, sekuat apa pun engkau menghentakkan kaki karena merasa berkuasa, engkau tetaplah makhluk lemah yang tak sanggup membelah kerak bumi. Dan setinggi apa pun engkau mengangkat bahu dan kepalamu karena merasa mulia, engkau takkan pernah mencapai tinggi puncak gunung.”
Apa Itu Sombong dalam Pandangan Islam?
Sahabat Muslim, penting bagi kita untuk memahami definisi sombong agar tidak salah dalam menilai diri sendiri maupun orang lain. Rasulullah SAW telah merangkum definisi sombong (Kibir) dengan sangat presisi dalam sebuah hadits shahih:
“Sombong adalah menolak kebenaran (Batarul Haq) dan meremehkan manusia (Ghamthun Nas).” (HR. Muslim).
1. Menolak Kebenaran (Batarul Haq)
Ini adalah tingkat kesombongan yang paling berbahaya. Seseorang menolak nasihat, menolak ayat Allah, atau menolak fakta kebenaran hanya karena yang menyampaikannya dianggap lebih rendah status sosialnya, usianya, atau ilmunya.
2. Meremehkan Manusia (Ghamthun Nas)
Merasa diri lebih suci, lebih pintar, atau lebih kaya sehingga memandang orang lain dengan sebelah mata. Sahabat Muslim, ingatlah bahwa di mata Allah, hanya ketakwaan yang menjadi pembeda, bukan atribut duniawi yang kita banggakan.
5 Bahaya Sombong QS Al-Isra 37 bagi Muslim dan Muslimah
Berdasarkan Penjelasan Ayat Tentang Larangan Sombong (QS. Al-Isra: 37) dan dalil-dalil pendukung lainnya, berikut adalah 5 bahaya mengerikan yang mengintai orang sombong:
- Terhalang dari Pintu Surga: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” (HR. Muslim). Ini adalah ancaman yang sangat serius bagi setiap mukmin.
- Menjadi Teman Iblis: Sombong adalah dosa pertama yang dilakukan makhluk di langit. Iblis dikutuk bukan karena tidak beribadah, tapi karena sombong merasa lebih baik (Ana Khairun Minhu) saat diperintahkan sujud kepada Adam AS.
- Hati yang Terkunci dari Hidayah: Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf: 146 bahwa Dia akan memalingkan orang-orang yang sombong di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Nya. Orang sombong sulit mendapat hidayah karena merasa sudah “cukup”.
- Dibenci oleh Allah dan Makhluk-Nya: Allah secara tegas menyatakan dalam QS. An-Nahl: 23 bahwa “Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang sombong.” Secara sosial, orang yang angkuh juga akan dijauhi dan tidak disukai oleh sesama manusia.
- Kehinaan di Hari Kiamat: Pelaku kesombongan akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam bentuk sekecil semut, namun dalam rupa manusia, yang kemudian akan diinjak-injak oleh orang lain sebagai balasan atas keangkuhan mereka di dunia.
Tabel Perbedaan Karakter: Tawadhu vs Takabbur
| Dimensi Sikap | Tawadhu (Rendah Hati) | Takabbur (Sombong) |
|---|---|---|
| Terhadap Kebenaran | Cepat menerima & tunduk | Menolak & berdebat meski salah |
| Terhadap Orang Lain | Menghargai & melihat kebaikan orang | Meremehkan & mencari celah orang |
| Saat Mendapat Nikmat | Bersyukur & mengembalikannya ke Allah | Bangga diri & merasa hasil kerja sendiri |
| Cara Berjalan/Bicara | Tenang, santun, & bersahaja | Angkuh, pamer, & merendahkan |
| Respons terhadap Kritik | Menjadikannya bahan evaluasi diri | Marah & merasa tidak mungkin salah |
Akar Penyebab Munculnya Penyakit Sombong
Sahabat Muslim, penyakit sombong tidak muncul begitu saja. Ia biasanya tumbuh dari “kelebihan” yang tidak dikelola dengan iman. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan beberapa akar sombong:
- Ilmu: Merasa paling paham agama atau sains sehingga menganggap orang lain bodoh.
- Amal Ibadah: Merasa paling shaleh sehingga menganggap orang lain ahli neraka.
- Nasab/Keturunan: Membanggakan garis keturunan mulia dan merendahkan orang yang “bukan siapa-siapa”.
- Harta dan Jabatan: Merasa uang dan kekuasaan bisa membeli segalanya, termasuk kehormatan orang lain.
- Kecantikan/Ketampanan: Merasa fisik adalah segalanya dan lupa bahwa kecantikan akan pudar dimakan usia.
Cara Mengobati Hati dari Penyakit Sombong
Jika Sahabat Muslim merasakan ada benih kesombongan dalam hati, segeralah melakukan “operasi spiritual” dengan langkah-langkah berikut:
- Mengingat Asal Kejadian: Renungkanlah bahwa kita diciptakan dari setetes air yang hina (mani) dan akan berakhir menjadi bangkai di dalam tanah. Apa yang patut dibanggakan dari makhluk yang membawa kotoran ke mana-mana?
- Menyadari Bahwa Semua adalah Titipan: Kekayaan bisa hilang dalam sekejap (seperti kisah Qarun), ilmu bisa hilang karena penyakit lupa, dan kecantikan bisa hilang karena kecelakaan.
- Sering Melihat ke Bawah: Dalam urusan dunia, lihatlah mereka yang lebih sulit. Hal ini akan memunculkan rasa syukur dan mematikan benih keangkuhan.
- Melatih Diri Bergaul dengan Siapa Saja: Jangan hanya mau berteman dengan yang selevel. Biasakan makan bersama kaum dhuafa atau membantu pekerjaan orang yang statusnya di bawah kita.
- Perbanyak Zikir dan Istighfar: Mengakui kebesaran Allah (Allahu Akbar) setiap kali shalat seharusnya menghancurkan perasaan “Aku yang Besar” dalam hati kita.
Kisah Teladan: Ketawadhuan Rasulullah SAW
Sahabat Muslim, Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia, namun beliau adalah orang yang paling rendah hati. Beliau mau menjahit sandalnya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan menyuapi orang buta yang sering mencaci-makinya. Beliau bersabda:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan hati karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).
Ini adalah rumus langit: jika Anda ingin naik derajat, maka rendahkanlah hati Anda di bumi.
Kesimpulan
Tadabbur Penjelasan Ayat Tentang Larangan Sombong (QS. Al-Isra: 37) menyadarkan kita bahwa kesombongan adalah sebuah fatamorgana yang hanya akan menjerumuskan manusia ke dalam kehinaan dunia dan azab akhirat, karena secara hakiki kita tidak memiliki kekuatan untuk menembus bumi maupun menyamai tinggi gunung.
Allah SWT melalui ayat ini memberikan terapi mental agar kita senantiasa sadar akan posisi kita sebagai hamba yang fakir di hadapan Sang Maha Perkasa, sehingga setiap nikmat yang kita terima harusnya membuahkan ketundukan jiwa dan penghormatan kepada sesama makhluk. Oleh karena itu, mari kita buang jauh-jauh rasa bangga diri yang berlebihan, karena kemuliaan sejati hanya milik mereka yang berjalan di muka bumi dengan tenang, menebar kasih sayang, dan selalu menyadari bahwa segala kebesaran hanyalah milik Allah Azza wa Jalla.





