5 Rahasia Haru Kisah Ummu Aiman, Ibu Kedua Rasulullah SAW!

25 Januari 2026

5 Menit baca

Nelly g zk3zsQgKWSY unsplash

​Kisah Ummu Aiman adalah potret nyata tentang kesetiaan tanpa batas yang melampaui logika, sebuah cerita tentang seorang wanita yang mengasuh cahaya alam semesta sejak kecil hingga akhir hayatnya dengan penuh cinta yang sunyi namun abadi.

​Dalam perjalanan spiritual kita, sering kali kita membutuhkan sosok teladan yang bisa membuat hati tenang dan meyakini bahwa setiap tetap peluh dalam merawat amanah Allah tidak akan pernah sia-sia. Ummu Aiman bukan hanya seorang pengasuh, ia adalah saksi hidup dari setiap fase perjuangan Rasulullah SAW. Mari kita duduk sejenak, ambil napas dalam-dalam, dan biarkan kisah indah ini menjadi self-healing bagi jiwa kita yang sedang merindukan ketulusan.

​1. Siapa Sebenarnya Barakah binti Tsa’labah?

​Sahabat Muslim, sebelum dikenal dengan panggilan Ummu Aiman, nama asli beliau adalah Barakah binti Tsa’labah. Beliau adalah seorang wanita asal Ethiopia (Habasyah) yang diwariskan oleh ayahanda Nabi, Abdullah bin Abdul Muthalib, untuk membantu Ibunda Aminah.

​Namun, statusnya bukan sekadar pembantu. Beliau adalah sosok yang memeluk Nabi Muhammad SAW saat beliau masih bayi, yang menyeka air mata beliau saat kehilangan orang tua, dan yang tetap berdiri tegak saat badai dakwah menerjang. Kesetiaan beliau adalah jenis kesetiaan yang langka, yang berakar dari iman dan cinta yang sangat dalam.

​Sosok di Balik Kesedihan Lembah Abwa

​Saat Ibunda Aminah wafat di Abwa dalam perjalanan kembali dari Yatsrib, Ummu Aiman-lah yang memeluk Muhammad kecil yang baru berusia 6 tahun. Di tengah padang pasir yang sunyi, beliau berjanji dalam hati untuk tidak pernah meninggalkan anak yatim piatu ini. Beliau membawa Nabi kembali ke Makkah dengan penuh penjagaan, menyerahkannya kepada sang kakek, Abdul Muthalib, dengan mata yang sembab namun hati yang teguh.

​2. “Ummu Ba’da Ummi”: Panggilan Sayang dari Lisan Nabi

​Tahukah Sahabat Muslim, betapa istimewanya kedudukan beliau di mata Rasulullah SAW? Beliau sering memanggil Ummu Aiman dengan sebutan:

“Ya Ummah!” (Wahai Ibu!)

​Bahkan, dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW sering berucap dengan nada yang sangat menyentuh:

​”Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibu kandungku (Ummu ba’da ummi).”

​Panggilan ini adalah bentuk penghargaan tertinggi. Meskipun secara biologis bukan ibu kandung, namun rahim kasih sayangnya telah menjaga Nabi selama puluhan tahun. Ini mengajarkan kita bahwa hubungan keluarga dalam Islam tidak hanya soal darah, tapi soal siapa yang paling tulus mendampingi kita dalam ketaatan kepada Allah.

​3. Ketangguhan dalam Hijrah dan Pengabdian di Madinah

Kisah Ummu Aiman tidak berhenti pada masa kecil Nabi saja. Saat perintah hijrah turun, beliau yang saat itu sudah tidak muda lagi, tetap berangkat menuju Madinah. Beliau menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki, menembus panas yang membakar dan kehausan yang sangat, demi bisa berkumpul kembali dengan manusia yang paling dicintainya.

​Di Madinah, beliau tidak lantas beristirahat. Beliau aktif dalam perjuangan Islam:

  • Perang Uhud: Beliau berada di garis belakang untuk memberikan minum kepada prajurit yang haus dan mengobati luka-luka mereka.
  • Perang Khaibar: Beliau tetap menunjukkan keberaniannya meski usianya kian senja.
  • Penjaga Rahasia Nabi: Beliau adalah salah satu orang kepercayaan yang memahami seluk-beluk kehidupan rumah tangga Nabi.

​Kisah beliau mengingatkan kita bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap produktif di jalan Allah. Selama jantung masih berdetak, selalu ada ruang untuk beramal saleh.

​4. Keberkahan Keluarga: Istri Zaid dan Ibu Usamah

​Rasulullah SAW sangat memperhatikan kebahagiaan Ummu Aiman. Beliau pernah bersabda kepada para sahabatnya:

​”Barangsiapa yang ingin menikah dengan wanita dari penghuni surga, hendaklah ia menikahi Ummu Aiman.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam At-Tabaqat).

​Mendengar hal itu, Zaid bin Haritsah, pemuda kesayangan Nabi, segera melamarnya. Dari pernikahan yang penuh berkah ini, lahirlah Usamah bin Zaid, panglima perang termuda yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW. Bayangkan Sahabat Muslim, dari didikan seorang wanita yang tulus seperti Ummu Aiman, lahir generasi-generasi hebat yang menjadi pilar peradaban Islam.

​5. Jaminan Surga untuk Sang Penjaga Amanah

​Kematian Rasulullah SAW adalah pukulan terberat bagi Ummu Aiman. Saat Abu Bakar dan Umar bin Khattab mengunjungi beliau setelah wafatnya Nabi, mereka mendapati Ummu Aiman menangis tersedu-sedu. Ketika ditanya mengapa beliau menangis, padahal Rasulullah sudah berada di tempat yang paling mulia, beliau menjawab:

​”Aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa beliau telah menuju tempat yang baik. Aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus.”

​Jawaban ini membuat Abu Bakar dan Umar ikut menangis. Ketajaman spiritual Ummu Aiman menunjukkan betapa beliau sangat mencintai cahaya wahyu. Allah SWT menjanjikan surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh dengan tulus, dan Ummu Aiman telah membuktikan pengabdiannya selama lebih dari 60 tahun.

​Allah SWT berfirman:

​”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Buruj: 11).

​Kesimpulan

​Kesimpulannya, Kisah Ummu Aiman mengajarkan kepada kita bahwa nilai seorang manusia di mata Allah tidak dilihat dari status sosialnya, melainkan dari kedalaman kesetiaan dan ketulusannya dalam menjaga amanah. Beliau adalah simbol cinta ibu yang tidak pernah padam, yang mendampingi perjuangan dari titik nol hingga puncak kemenangan.

​Sahabat Muslim, jika saat ini kamu merasa pengabdianmu di rumah atau di tempat kerja terasa berat, ingatlah sosok Barakah binti Tsa’labah. Beliau telah membuktikan bahwa pengabdian yang sunyi di dunia akan berbuah suara riuh sambutan para malaikat di surga nanti.

​Ingin mengetahui lebih banyak tentang kisah para sahabat Nabi yang menggetarkan hati, tips parenting Islami, atau informasi terpercaya seputar perjalanan Umroh? Yuk, perkaya wawasan keislaman Sahabat dengan membaca artikel inspiratif lainnya di umroh.co. Mari kita terus belajar membasahi hati dengan sirah para salafus shalih agar hidup kita senantiasa berada dalam naungan rida-Nya. Sampai jumpa di artikel berikutnya, Sahabat Muslim!

Artikel Terkait

Baluran

26 Januari 2026

6 Rahasia Kesehatan Muslimah Lansia: Kuat Ibadah & Tawaf!

​Menjaga Kesehatan Muslimah Lansia sebenarnya adalah tentang bagaimana kita menghargai fase “lemah yang membawa berkah” ini dengan memberikan nutrisi dan perhatian yang tepat bagi ... Read more

Baluran

26 Januari 2026

Boleh Warna Terang? 4 Fakta Hukum Warna Baju Wanita!

​Memahami Hukum Warna Baju Wanita sebenarnya adalah tentang menemukan titik keseimbangan antara mengekspresikan rasa syukur atas keindahan dan menjaga kemuliaan diri sebagai seorang Muslimah. ... Read more

Baluran

26 Januari 2026

5 Fakta Unik Kisah Rayhanah binti Zaid yang Jarang Diketahui

​Kisah Rayhanah binti Zaid adalah sebuah potret nyata tentang bagaimana hidayah bekerja dengan cara yang sangat personal dan penuh ketenangan di dalam lingkaran terdekat ... Read more

Baluran

26 Januari 2026

Belum Punya Anak? Ini 2 Kisah Ajaib yang Menyejukkan Hati

​Melatih diri untuk Sabar Belum Punya Anak memang bukan perkara mudah, apalagi saat melihat orang-orang di sekitar kita dengan mudahnya menimang buah hati, sementara ... Read more

Baluran

26 Januari 2026

Bolehkah Pakai Kacamata Hitam Saat Ihram? Cek 3 Aturannya!

​Memahami hukum mengenakan Kacamata Hitam Saat Ihram menjadi hal penting agar kita bisa menjalankan rukun demi rukun dengan nyaman tanpa rasa was-was di dalam ... Read more

Baluran

26 Januari 2026

7 Rahasia Sabar dalam Poligami: Kunci Surga & Hati Tenang

​Melatih rasa Sabar dalam Poligami bukanlah tentang menekan rasa sakit, melainkan sebuah proses transformasi jiwa untuk menemukan ketenangan hakiki yang hanya bersandar pada rida ... Read more