Peristiwa Hajj Wada atau Haji Perpisahan bukan sekadar ritual ibadah terakhir Rasulullah SAW, melainkan sebuah wasiat cinta yang maha dahsyat yang diletakkan di tengah Padang Arafah untuk menjadi kompas bagi setiap manusia yang mencari keadilan dan ketenangan batin.
Mempelajari khutbah terakhir beliau adalah cara terbaik untuk melakukan self-healing. Di sana, kita akan menyadari bahwa kita sangat berharga, dilindungi, dan dicintai oleh sistem Islam yang sempurna. Mari kita duduk sejenak, tarik napas dalam-dalam, dan resapi setiap butir mutiara hikmah dari momen paling mengharukan dalam sejarah Islam ini.
Apa Itu Hajj Wada?
Sahabat Muslim, pada tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah SAW melaksanakan ibadah haji yang pertama dan sekaligus yang terakhir baginya. Dihadiri oleh lebih dari 100.000 sahabat, beliau berdiri di atas untanya, Al-Qashwa, di Lembah Uranah, Padang Arafah. Beliau sadar bahwa ajalnya sudah dekat, maka setiap kata yang keluar adalah inti sari dari ajaran Islam yang telah beliau perjuangkan selama 23 tahun.
1. Kesucian Darah, Harta, dan Kehormatan
Pesan pertama yang beliau sampaikan adalah tentang perlindungan hak asasi manusia yang paling dasar. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah suci atas kamu sekalian, sebagaimana sucinya hari ini, di bulan ini, dan di negeri ini (Mekkah).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bagi kita yang sering merasa terancam atau tidak aman, pesan ini adalah jaminan dari Allah bahwa tidak ada seorang pun yang berhak menyakiti atau merampas hak milik kita tanpa alasan yang benar. Islam memberikan rasa aman yang hakiki bagi jiwa kita.
2. Penghapusan Riba dan Ketidakadilan Ekonomi
Rasulullah SAW dengan tegas menghapus praktik riba. Beliau ingin umatnya hidup tenang tanpa jeratan hutang yang mencekik. Beliau memulai dari keluarganya sendiri, menghapuskan riba dari pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib.
- Pelajaran untuk kita: Ketenangan finansial dimulai dengan keberkahan, bukan dengan jumlah angka yang berlipat ganda dari hasil yang tidak halal.
- Fokus pada Berkah: Islam mengajarkan kita untuk merasa cukup (qana’ah) agar hati tidak terus-menerus merasa haus dan gelisah.
3. Memuliakan dan Melindungi Hak Wanita
Sahabat Muslim, poin ini seringkali membuat hati kita terenyuh. Di tengah masyarakat yang dahulu merendahkan wanita, Rasulullah SAW justru berpesan:
“Bertakwalah kepada Allah dalam urusan wanita. Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah…”
Beliau meminta para suami untuk memperlakukan istri dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Ini adalah pesan healing bagi para wanita muslimah, bahwa kedudukan mereka begitu tinggi dan dilindungi secara sakral dalam Islam.
4. Persamaan Derajat (Anti-Rasisme)
Dunia mungkin sering membedakan kita berdasarkan warna kulit, suku, atau jabatan. Namun, di momen Hajj Wada, Rasulullah SAW meruntuhkan semua tembok itu:
“Wahai manusia, Tuhan kalian adalah satu, bapak kalian satu (Adam). Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula orang non-Arab atas orang Arab… kecuali dengan takwanya.”
Pesan ini sangat menyejukkan hati karena kita semua berdiri sejajar di mata Allah. Nilai dirimu bukan pada apa yang terlihat di cermin, tapi pada apa yang ada di dalam hatimu.
5. Larangan Saling Menindas dan Berbuat Zalim
Beliau mengingatkan agar kita tidak kembali menjadi tersesat setelah kepergian beliau dengan saling membunuh atau menzalimi satu sama lain. Kehidupan yang tenang adalah kehidupan yang penuh dengan kedamaian (salam). Kedamaian ini dimulai dari cara kita memperlakukan tetangga, teman, dan orang asing di sekitar kita.
6. Berpegang Teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah SAW meninggalkan dua warisan yang tidak akan membuat kita tersesat selamanya: Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahnya. Jika Sahabat Muslim merasa kehilangan arah atau bingung dengan banyaknya opini dunia, kembalilah pada dua sumber ini. Di sanalah jawaban atas segala kegelisahan hati kita berada.
7. Kesempurnaan Agama dan Penutup Risalah
Di akhir khutbah tersebut, turunlah wahyu yang paling mengharukan, Surah Al-Ma’idah ayat 3:
“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu…”
Seketika itu juga, para sahabat menangis. Mereka menyadari tugas Nabi telah usai. Namun bagi kita, ini adalah pesan kebahagiaan bahwa Islam adalah nikmat yang sempurna. Kita tidak perlu mencari pedoman hidup lain, karena Islam sudah mencakup segalanya—dari urusan hati hingga urusan negara.
Mengapa Pesan Hajj Wada Sangat Relevan Saat Ini?
Meresapi khutbah terakhir ini bisa menjadi terapi jiwa bagi kita semua:
- Meredakan Cemas: Menyadari bahwa kita hidup dalam perlindungan hukum Allah yang adil.
- Membangun Empati: Mengajak kita untuk lebih lembut kepada sesama manusia.
- Menemukan Tujuan: Menyadari bahwa takwa adalah satu-satunya standar kemuliaan yang abadi.
Kesimpulan
Peristiwa Hajj Wada memang sebuah perpisahan fisik antara Rasulullah SAW dengan umatnya, namun pesan-pesan yang beliau tinggalkan adalah cahaya yang tidak akan pernah padam. Wasiat beliau adalah tentang cinta, keadilan, dan kesempurnaan hidup yang menenangkan jiwa.
Semoga dengan mengenal lebih dalam pesan terakhir beliau, hati Sahabat Muslim menjadi lebih kuat, langkah menjadi lebih mantap, dan jiwa menjadi lebih tenang dalam dekapan iman.
Apakah Sahabat Muslim ingin mendalami lebih banyak rahasia hikmah di balik peristiwa bersejarah Islam atau mencari panduan praktis kehidupan Muslim yang menenangkan lainnya?
Sahabat Muslim bisa menemukan berbagai panduan spiritual, kisah inspiratif para sahabat, hingga informasi keislaman yang mendalam di umroh.co. Mari terus perkaya ilmu dan iman kita agar setiap langkah kita selalu dalam rida-Nya dan memberikan ketenangan bagi jiwa.
Yuk, klik dan baca artikel inspiratif lainnya di website umroh.co untuk informasi lainnya seputar keislaman dan kehidupan muslim yang inspiratif!





