Sejarah Raudhah mencatat bahwa area kecil di dalam Masjid Nabawi ini bukan sekadar ruang fisik biasa, melainkan potongan taman surga yang diturunkan Allah SWT ke bumi bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Bagi setiap jamaah haji maupun umroh, menginjakkan kaki di atas karpet hijau Raudhah adalah impian spiritual yang paling dinanti-nantikan setelah berziarah ke makam Rasulullah SAW.
Sahabat Muslim, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa area yang luasnya tidak seberapa ini selalu dipadati ribuan orang yang rela mengantre berjam-jam? Di balik keindahan arsitekturnya, terdapat sejarah panjang dan janji langit yang membuat setiap doa yang terucap di sana terasa begitu dekat dengan Arsy Allah.
Mengenal Definisi dan Sejarah Raudhah
Secara bahasa, Raudhah berarti taman. Dalam konteks Masjid Nabawi, Raudhah adalah area suci yang terletak di antara rumah Rasulullah SAW (yang kini menjadi makam beliau) dan mimbar tempat beliau berkhutbah. Area ini telah menjadi pusat perhatian umat Islam sejak zaman Nabi hingga perluasan masjid di era modern saat ini.
Keberadaan Raudhah didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang sangat masyhur:
“Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman (raudhah) dari taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telagaku.” (HR. Bukhari No. 1196 dan Muslim No. 1391)
Para ulama memiliki beberapa interpretasi mengenai hadits ini. Ada yang berpendapat bahwa area tersebut akan dipindahkan ke surga kelak, ada pula yang meyakini bahwa beribadah di sana akan mengantarkan seseorang masuk ke dalam surga.
Batas-Batas Fisik Raudhah yang Perlu Sahabat Muslim Ketahui
Mengetahui batas-batas Raudhah sangat penting agar Sahabat Muslim tidak salah posisi saat diberikan kesempatan masuk oleh petugas (Asykar). Meskipun saat ini area Masjid Nabawi sangat luas, Raudhah memiliki penanda khusus yang membedakannya dari bagian masjid lainnya.
1. Karpet Berwarna Hijau
Ciri yang paling mencolok adalah warna karpetnya. Jika sebagian besar lantai Masjid Nabawi ditutupi karpet berwarna merah, area Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau. Ini adalah cara termudah bagi jamaah untuk mengenali bahwa mereka telah berada di “Taman Surga”.
2. Tiang-Tiang (Pilar) Putih yang Khas
Di dalam Raudhah, terdapat pilar-pilar putih dengan ukiran kaligrafi emas yang indah. Pilar-pilar ini memiliki sejarah tersendiri karena menandai tempat-tempat penting di masa Nabi.
3. Batas Timur dan Barat
- Batas Timur: Kamar Ummul Mukminin Aisyah RA, yang sekarang menjadi tempat dimakamkannya Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, dan Umar bin Khattab RA.
- Batas Barat: Mimbar Rasulullah SAW.
- Batas Utara: Garis sejajar dengan akhir rumah Aisyah RA.
- Batas Selatan: Pagar makam Rasulullah SAW.
Luas total Raudhah diperkirakan sekitar 22 meter (panjang dari timur ke barat) dan 15 meter (lebar dari utara ke selatan), dengan total luas kurang lebih 330 meter persegi.
6 Pilar Bersejarah di Area Raudhah
Dalam Sejarah Raudhah, tiang-tiang yang ada di sana bukan sekadar penyangga bangunan. Setiap tiang menandai peristiwa besar dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat.
| Nama Tiang (Usthuwanah) | Makna Sejarah |
|---|---|
| Usthuwanah Al-Mukhallaqah | Tiang tempat Rasulullah SAW bersandar saat mengimami shalat. |
| Usthuwanah Al-Aisyah | Tiang yang disebut Aisyah sebagai tempat paling afdhal untuk shalat. |
| Usthuwanah At-Taubah | Tempat Abu Lubabah mengikatkan diri karena menyesali kesalahannya. |
| Usthuwanah As-Sarir | Tempat Rasulullah SAW meletakkan tempat tidurnya saat beri’tikaf. |
| Usthuwanah Al-Hars | Tempat para sahabat (termasuk Ali bin Abi Thalib) berjaga melindungi Nabi. |
| Usthuwanah Al-Wufud | Tempat Rasulullah SAW menerima delegasi atau tamu dari luar kabilah. |
Mengapa Raudhah Begitu Diburu untuk Berdoa?
Sahabat Muslim, alasan utama mengapa area ini menjadi rebutan adalah karena statusnya sebagai tempat yang mustajab (doa dikabulkan). Berada di Raudhah memberikan sensasi kedekatan spiritual dengan Rasulullah SAW.
Kemuliaan Beribadah di Dekat Nabi
Raudhah adalah tempat di mana wahyu sering turun dan tempat di mana Rasulullah SAW paling sering sujud dan bermunajat. Energi spiritual yang ditinggalkan di tempat ini memberikan ketenangan luar biasa bagi siapapun yang masuk ke dalamnya.
Janji Pengampunan Dosa
Banyak jamaah yang datang ke Raudhah dengan membawa tumpukan dosa dan harapan. Mengikuti sunnah Nabi dengan melakukan shalat sunnah dua rakaat dan memperbanyak istighfar di tempat ini diyakini menjadi wasilah bagi ampunan Allah SWT.
Adab Berada di Raudhah bagi Muslim dan Muslimah
Mengingat betapa sucinya tempat ini, Sahabat Muslim harus memperhatikan adab agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT:
- Niat yang Ikhlas: Masuklah dengan niat semata-mata mengharap ridha Allah dan kerinduan kepada Rasulullah SAW.
- Menjaga Ketenangan: Jangan berteriak, mendorong jamaah lain, atau bertindak kasar demi mendapatkan tempat. Ingatlah, kita berada di depan “rumah” Nabi.
- Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid atau Syukur Wudhu: Gunakan waktu yang singkat (biasanya 10-15 menit sesuai aturan Asykar) untuk shalat dua rakaat.
- Memperbanyak Shalawat: Ini adalah momen terbaik untuk mengirimkan salam kepada kekasih Allah yang makamnya hanya berjarak beberapa meter dari Anda.
- Mendoakan Orang Lain: Jangan hanya berdoa untuk diri sendiri, sebutkan nama orang tua, keluarga, dan teman agar malaikat juga mendoakan Anda.
Tantangan Masuk Raudhah di Era Digital: Aplikasi Nusuk
Di masa lalu, jamaah bisa mencoba masuk Raudhah kapan saja dengan sistem antrean fisik. Namun saat ini, pemerintah Arab Saudi memberlakukan aturan ketat melalui aplikasi Nusuk.
Sahabat Muslim harus mendaftarkan diri dan mendapatkan jadwal (tasrih) melalui aplikasi ini. Hal ini dilakukan untuk menjaga ketertiban dan memastikan setiap jamaah mendapatkan kesempatan yang adil tanpa harus berdesak-desakan yang membahayakan keselamatan.
Tips Agar Bisa Masuk Raudhah dengan Lancar:
- Daftar aplikasi Nusuk jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.
- Pilih waktu di sepertiga malam terakhir atau waktu dhuha (biasanya slot lebih cepat tersedia).
- Datanglah ke gerbang masuk 30 menit sebelum jadwal yang ditentukan.
- Patuhi arahan petugas dan jangan mencoba masuk tanpa izin resmi.
Kesimpulan
Memahami Sejarah Raudhah membuat kita sadar bahwa kesempatan berada di sana adalah karunia besar yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Batas-batas karpet hijau tersebut bukan sekadar pemisah visual, melainkan batas antara dunia yang fana dengan atmosfer surga yang kekal. Setiap sujud di atasnya adalah bentuk cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
Semoga Allah SWT memudahkan langkah Sahabat Muslim sekalian untuk bisa hadir di Raudhah, bershalawat langsung di hadapan makam Rasulullah, dan merasakan kedamaian yang tiada tara di taman surga dunia tersebut. Amin Ya Rabbal Alamin.
Sahabat Muslim, apakah Anda berencana untuk berangkat umroh dalam waktu dekat dan ingin tahu lebih banyak tentang tips perjalanan ke tanah suci? Atau ingin mendalami kisah-kisah inspiratif seputar tempat bersejarah lainnya di Makkah dan Madinah?
Jangan lewatkan informasi berharga lainnya seputar dunia keislaman dan kehidupan muslim yang menyejukkan hati hanya di umroh.co. Temukan berbagai panduan ibadah dan artikel menarik yang akan memperkaya wawasan spiritual Anda. Mari kita jemput keberkahan ilmu setiap hari!
Referensi Terpercaya:
- Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani. (2004). Sejarah Masjid Nabawi Syarif. Madinah.
- Al-Mubarakfuri, S. R. (2007). Ar-Raheeq Al-Makhtum. Darussalam Publications.
- Himpunan Hadits Shahih. Kitab Fadhilah Madinah (Bukhari & Muslim).
- Panduan Resmi Kementerian Haji dan Umroh Arab Saudi. (2023). Tata Cara Penggunaan Aplikasi Nusuk.




