Boleh Warna Terang? 4 Fakta Hukum Warna Baju Wanita!

26 Januari 2026

5 Menit baca

Xinying lin fB9S Mh7CX0 unsplash

​Memahami Hukum Warna Baju Wanita sebenarnya adalah tentang menemukan titik keseimbangan antara mengekspresikan rasa syukur atas keindahan dan menjaga kemuliaan diri sebagai seorang Muslimah.

​Dunia fashion saat ini menawarkan ribuan palet warna yang menggoda mata. Namun, bagi kita yang rindu akan bimbingan syariat, warna bukan sekadar tren. Warna adalah pesan yang kita sampaikan kepada dunia tentang siapa kita dan siapa yang kita sembah. Mari kita bahas dengan hati yang tenang, layaknya obrolan hangat di sore hari, agar Sahabat bisa berpakaian dengan penuh percaya diri sekaligus merasa aman dalam lindungan-Nya.

​1. Asal Hukum Warna: Kebebasan yang Menenangkan

​Hal pertama yang perlu Sahabat Muslim ketahui adalah Islam merupakan agama yang sangat luas dan memudahkan. Dalam hal berpakaian, pada dasarnya semua warna itu diperbolehkan (mubah). Tidak ada satu warna pun yang secara spesifik diharamkan bagi wanita dalam Al-Qur’an maupun hadist shahih.

​Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

​”Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?'” (QS. Al-A’raf: 32).

​Ayat ini adalah “pelukan” bagi jiwa kita. Allah menciptakan warna-warni bunga, langit, dan bumi untuk kita nikmati. Jadi, Sahabat tidak perlu merasa bersalah hanya karena memakai warna selain hitam atau gelap, selama syarat utama penutupan aurat (longgar dan tidak transparan) sudah terpenuhi.

​2. Mengenal Tabarruj dalam Spektrum Warna

​Meskipun hukum asalnya mubah, ada sebuah konsep yang perlu kita jaga, yaitu menghindari tabarruj. Apa itu? Secara sederhana, tabarruj adalah berlebih-lebihan dalam menampakkan perhiasan atau kecantikan dengan tujuan menarik perhatian lawan jenis yang bukan mahram.

​Bagaimana Warna Bisa Menjadi Tabarruj?

​Dalam konteks Hukum Warna Baju Wanita, warna bisa masuk kategori tabarruj jika:

  • Terlalu Mencolok (Syuhrah): Warna yang sangat kontras dengan lingkungan sekitar sehingga setiap mata pasti tertuju pada kita.
  • Warna “Genit”: Warna yang dikombinasikan dengan aksesoris berlebih yang memberikan kesan ingin “pamer”.

​Allah berpesan kepada para wanita melalui Surah Al-Ahzab ayat 33:

​”…dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu…”

​Pesan ini bukan untuk mengekang, tapi untuk menjaga agar nilai seorang wanita dilihat dari akhlak dan kecerdasannya, bukan sekadar dari warna bajunya yang menyala.

​3. Meneladani Warna Pakaian Para Sahabiyah

​Sahabat Muslim mungkin sering mendengar hadist tentang wanita Ansar yang keluar rumah seperti “burung gagak” (berpakaian hitam). Namun, tahukah Sahabat bahwa itu hanyalah salah satu sisi?

​Faktanya, para Ibunda Orang Beriman (Ummul Mukminin) juga pernah mengenakan warna lain:

  • Warna Merah: Dalam beberapa riwayat, Ibunda Aisyah RA pernah mengenakan pakaian berwarna merah saat berada di rumah atau dalam kondisi tertentu yang terjaga.
  • Warna Kuning: Diriwayatkan bahwa beberapa sahabiyah mengenakan pakaian yang dicelup dengan usfur (pewarna kuning/jingga).

​Ini membuktikan bahwa warna tidaklah kaku. Para wanita mulia di sekitar Rasulullah SAW memahami kapan harus tampil sangat bersahaja dan kapan boleh mengenakan warna yang mereka sukai, asalkan tetap dalam koridor kesopanan dan tidak memicu fitnah.

​4. 3 Prinsip Memilih Warna yang Menyejukkan Hati

​Agar Sahabat Muslim tetap tenang dan tidak pusing dalam memilih warna, yuk terapkan 3 prinsip “Self-Healing Fashion” berikut ini:

  • Prinsip Urfi (Kepatutan Lokal): Jika di lingkungan Sahabat warna hijau atau biru muda sudah dianggap biasa dan tidak menarik perhatian berlebih, maka pakailah dengan tenang. Sesuatu yang dianggap biasa di suatu tempat, belum tentu tabarruj.
  • Prinsip Niat: Tanyakan pada hati, “Aku pakai warna ini karena suka dan ingin rapi, atau karena ingin dipuji?” Niat adalah kompas ibadah kita.
  • Prinsip Harmoni: Pilihlah warna-warna yang lembut (soft atau earth tone). Warna seperti coklat, abu-abu, hijau zaitun, atau biru tua biasanya lebih memberikan efek menenangkan baik bagi pemakai maupun yang melihat.

​Menjadikan Berpakaian Sebagai Bentuk Syukur

​Sahabat Muslim, pakaian adalah cara kita berterima kasih kepada Allah atas nikmat menutup malu. Saat kita memilih warna yang sopan, kita sebenarnya sedang melakukan self-healing. Kita membebaskan diri dari jeratan standar manusia yang menuntut kita untuk selalu tampil “wah” dan beralih menuju standar Allah yang hanya menuntut kita untuk tampil “patut”.

​Hati akan jauh lebih tenang saat kita tidak lagi merasa harus bersaing dalam hal penampilan. Kesederhanaan dalam warna justru memancarkan keanggunan yang lebih abadi.

​Kesimpulan

​Kesimpulannya, Hukum Warna Baju Wanita adalah mubah atau diperbolehkan secara luas, selama tidak diniatkan untuk tabarruj atau mencari popularitas semu. Gunakanlah warna sebagai sarana untuk tampil rapi dan bersih sebagai bentuk syukur kepada Allah, namun tetaplah rendah hati dalam setiap penampilan.

​Ingatlah, kecantikan sejati seorang Muslimah bukan terpancar dari seberapa cerah warna pakaiannya, melainkan dari seberapa teduh akhlaknya dan seberapa kuat imannya.

​Ingin tahu lebih banyak tentang tips gaya hidup islami, manajemen hati, atau informasi terpercaya seputar perjalanan Umroh yang penuh makna? Jangan lupa untuk terus memperdalam wawasan keislaman Sahabat dengan membaca artikel inspiratif lainnya di umroh.co. Mari kita terus bertumbuh bersama untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tenang, dan lebih dicintai-Nya. Sampai jumpa di artikel berikutnya, Sahabat Muslim!

Artikel Terkait

Baluran

26 Januari 2026

6 Rahasia Kesehatan Muslimah Lansia: Kuat Ibadah & Tawaf!

​Menjaga Kesehatan Muslimah Lansia sebenarnya adalah tentang bagaimana kita menghargai fase “lemah yang membawa berkah” ini dengan memberikan nutrisi dan perhatian yang tepat bagi ... Read more

Baluran

26 Januari 2026

Boleh Warna Terang? 4 Fakta Hukum Warna Baju Wanita!

​Memahami Hukum Warna Baju Wanita sebenarnya adalah tentang menemukan titik keseimbangan antara mengekspresikan rasa syukur atas keindahan dan menjaga kemuliaan diri sebagai seorang Muslimah. ... Read more

Baluran

26 Januari 2026

5 Fakta Unik Kisah Rayhanah binti Zaid yang Jarang Diketahui

​Kisah Rayhanah binti Zaid adalah sebuah potret nyata tentang bagaimana hidayah bekerja dengan cara yang sangat personal dan penuh ketenangan di dalam lingkaran terdekat ... Read more

Baluran

26 Januari 2026

Belum Punya Anak? Ini 2 Kisah Ajaib yang Menyejukkan Hati

​Melatih diri untuk Sabar Belum Punya Anak memang bukan perkara mudah, apalagi saat melihat orang-orang di sekitar kita dengan mudahnya menimang buah hati, sementara ... Read more

Baluran

26 Januari 2026

Bolehkah Pakai Kacamata Hitam Saat Ihram? Cek 3 Aturannya!

​Memahami hukum mengenakan Kacamata Hitam Saat Ihram menjadi hal penting agar kita bisa menjalankan rukun demi rukun dengan nyaman tanpa rasa was-was di dalam ... Read more

Baluran

26 Januari 2026

7 Rahasia Sabar dalam Poligami: Kunci Surga & Hati Tenang

​Melatih rasa Sabar dalam Poligami bukanlah tentang menekan rasa sakit, melainkan sebuah proses transformasi jiwa untuk menemukan ketenangan hakiki yang hanya bersandar pada rida ... Read more