Mushaf Utsmani hadir sebagai sebuah mahakarya sejarah yang membuktikan betapa indahnya persatuan ketika seorang pemimpin besar seperti Utsman bin Affan r.a. memilih untuk mengutamakan kedamaian hati umat di atas segalanya.
Mempelajari sejarah penyatuan Al-Qur’an ini bukan sekadar menambah wawasan intelektual. Ini adalah sebuah perjalanan self-healing untuk menyadari bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya tersesat dalam keraguan. Mari kita duduk sejenak, siapkan hati yang lapang, dan resapi bagaimana ketenangan lisan kita hari ini adalah buah dari perjuangan yang sangat menyentuh hati di masa lalu.
Kegelisahan di Perbatasan: Awal Mula Sebuah Langkah Besar
Sahabat Muslim, mari kita bayangkan suasana di masa pemerintahan Khalifah Utsman. Wilayah Islam sudah meluas hingga ke Armenia dan Azerbaijan. Di medan perjuangan, para sahabat dari berbagai latar belakang suku berkumpul. Namun, sebuah masalah muncul: mereka mulai berselisih tentang cara membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Hudhayfah bin al-Yaman r.a., seorang sahabat yang sangat peka, melihat perselisihan ini dengan hati yang pedih. Beliau segera menemui Khalifah dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Kitab (Al-Qur’an) sebagaimana perselisihan kaum Yahudi dan Nasrani.” (HR. Bukhari).
Dari sini kita belajar:
- Peka terhadap Konflik: Ketenangan kelompok bermula dari keberanian untuk mengakui adanya masalah sebelum ia membesar.
- Tujuan yang Mulia: Langkah Utsman bukan untuk membatasi, tapi untuk melindungi kemurnian wahyu Allah.
Kebijaksanaan Khalifah dalam Menyatukan Hati
Mendengar laporan tersebut, Utsman bin Affan r.a. tidak marah atau tergesa-gesa. Dengan ketenangan seorang pemimpin yang santun, beliau meminjam mushaf asli yang disimpan oleh Ibunda Hafshah binti Umar r.a.
Beliau kemudian membentuk sebuah tim “jenius” yang dipimpin oleh Zaid bin Thabit r.a. Tugas mereka sangat mulia: menyalin Al-Qur’an ke dalam satu standar bacaan yang kini kita kenal sebagai Mushaf Utsmani.
Mengapa Harus Satu Dialek?
Agar tidak ada lagi perdebatan, Utsman memerintahkan agar Al-Qur’an ditulis berdasarkan dialek suku Quraisy—dialek di mana Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Ini adalah strategi conflict management terbaik sepanjang masa yang mengedepankan solusi jangka panjang.
3 Hikmah “Self-Healing” dari Perjuangan Utsman
Meresapi jasa Khalifah Utsman bisa memberikan ketenangan batin bagi kita dalam menghadapi masalah sehari-hari:
- Penerimaan atas Perbedaan: Utsman sadar bahwa perbedaan itu manusiawi, namun persatuan itu ilahi. Kadang kita harus “melepaskan” ego pendapat pribadi demi kebaikan yang lebih besar (maslahat).
- Fokus pada Standar yang Benar: Sebagaimana satu mushaf menenangkan perdebatan umat, kita pun butuh satu standar nilai dalam hidup—yakni agama—agar jiwa tidak terus-menerus gelisah mencari pembenaran.
- Keberanian Mengambil Keputusan Sulit: Menghancurkan catatan-catatan pribadi sahabat yang lain demi keseragaman mushaf tentu bukan hal mudah. Namun, keputusan itu diambil demi melindungi masa depan kita semua.
Mukjizat Pelestarian: Janji Allah yang Nyata
Sahabat Muslim, tahukah kamu bahwa apa yang dilakukan Utsman adalah cara Allah menjalankan janji-Nya? Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).
Utsman adalah instrumen kasih sayang Allah untuk menjaga setiap huruf, harakat, dan makna Al-Qur’an agar sampai ke tangan kita hari ini tanpa berubah sedikit pun. Saat kita membaca Al-Qur’an sekarang, kita sedang menikmati hasil dari ketulusan hati sang “Pemilik Dua Cahaya” (Dzun Nurain).
Dampak Mushaf Utsmani bagi Persatuan Dunia
Jika tidak ada Mushaf Utsmani, mungkin hari ini muslim di Indonesia akan membaca ayat yang berbeda dengan muslim di Maroko. Berkat kebijakan ini:
- Standarisasi Global: Seluruh dunia Islam memiliki satu teks yang sama.
- Kemudahan Menghafal: Al-Qur’an menjadi sangat mudah dipelajari karena konsistensi penulisannya.
- Benteng dari Fitnah: Tidak ada celah bagi musuh Islam untuk mengubah atau memalsukan ayat-ayat suci.
Kesimpulan
Keputusan Khalifah Utsman bin Affan untuk membukukan Al-Qur’an dalam satu standar Mushaf Utsmani adalah bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi persaudaraan dan ketenangan sosial. Beliau mengajarkan kita bahwa persatuan adalah kunci dari segala keberkahan.
Setiap kali Sahabat Muslim membuka mushaf dan mulai melantunkan ayat demi ayat, ingatlah bahwa ada cinta dan pengorbanan di setiap barisnya. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang gemar membaca dan mengamalkan isi Al-Qur’an dengan hati yang damai.
Apakah Sahabat Muslim ingin mendalami lebih banyak rahasia hikmah di balik sejarah Islam atau mencari panduan praktis kehidupan muslim yang menyejukkan hati lainnya?
Sahabat Muslim bisa menemukan berbagai panduan spiritual, kisah inspiratif para sahabat, hingga informasi keislaman yang mendalam di umroh.co. Mari terus perkaya ilmu dan iman kita agar setiap langkah hidup kita selalu dalam rida-Nya dan memberikan ketenangan bagi jiwa.
l





